Pandangan Teori Psikoanalisis tentang Perilaku Korupsi

November 27, 2008 at 9:46 am (Pandangan Teori Psikoanalisis tentang Perilaku Korupsi)

Sigmund Freud merupakan pendiri Psikoanalisis. Teori Psikoanalisis fokus pada pentingnya pengalaman masa kanak-kanak. Intinya, masa kanak-kanak memegang peran menentukan dalam membentuk kepribadian dan tingkah laku manusia ketika dewasa kelak.

Ada lima tahap perkembangan kepribadian dalam Psikoanalisis. Menurut Freud, manusia dalam perkembangan kepribadiannya melalui tahapan oral, anal, phallis, laten, dan genital. Tahap pertama, tahapan oral. Pada tahap ini manusia melulu menggunakan mulutnya untuk merasakan kenikmatan. Bayi selalu memasukkan ke mulutnya setiap benda yang dipegangnya. Tahapan ini berlangsung pada 0-3 tahun. Tahap kedua, tahapan anal. Inilah tahapan ketika anak memperoleh kenikmatan ketika mengeluarkan sesuatu dari anusnya. Anak menyukai melihat tumpukan kotorannya. Pada tahap ini anak dapat berlama-lama dalam toilet. Tahap ketiga, tahapan phallis. Tahap phallis berlangsung pada umur 8-10 tahun. Anak memperoleh kenikmatan dengan memainkan kelaminnya. Tahap keempat, tahapan laten. Anak melupakan tahapan memperoleh kenikmatan karena sudah memasuki usia sekolah. Anak mempunyai teman dan permainan baru. Tahap kelima, tahapan genital. Inilah tahapan ketika perkembangan kedewasaan mencapai puncaknya. Manusia sudah memasuki tingkat kedewasaan. Tahap-tahap perkembangan ini berjalan normal, dari satu tahap ke tahap berikutnya. Namun, bisa saja orang terhambat dalam perkembangan dini. Freud menyebutnya fiksasi. Penyebabnya beragam, bisa karena orang tua, lingkungan sosial, atau konflik mental.

Lantas apa relevansinya dengan perilaku korupsi? Untuk menjawabnya, kita mesti melacak akar penyebab korupsi.

Gone Theory

Menurut Jack Bologne, akar penyebab korupsi ada empat : Greed, Opportunity, Need, Exposes. Greed terkait keserakahan dan kerakusan para pelaku korupsi. Koruptor adalah orang yang tidak puas akan keadaan dirinya. Punya satu gunung emas, berhasrat punya gunung emas yang lain. Punya harta segudang, ingin punya pulau pribadi. Opportunity terkait dengan sistem yang memberi lubang terjadinya korupsi. Sistem pengendalian tak rapi, yang memungkinkan seseorang bekerja asal-asalan. Mudah timbul penyimpangan. Saat bersamaan, sistem pengawasan tak ketat. Orang gampang memanipulasi angka. Bebas berlaku curang. Peluang korupsi menganga lebar. Need berhubungan dengan sikap mental yang tidak pernah cukup, penuh sikap konsumerisme, dan selalu sarat kebutuhan yang tak pernah usai. Exposes berkaitan dengan hukuman pada pelaku korupsi yang rendah. Hukuman yang tidak membuat jera sang pelaku maupun orang lain. Deterrence effect yang minim.

Empat akar masalah diatas merupakan halangan besar pemberantasan korupsi. Tapi, dari keempat akar persoalan korupsi tadi, bagi saya, pusat segalanya adalah sikap rakus dan serakah. Sistem yang bobrok belum tentu membuat orang korupsi. Kebutuhan yang mendesak tak serta-merta mendorong orang korupsi. Hukuman yang rendah bagi pelaku korupsi belum tentu membikin orang lain terinspirasi ikut korupsi. Pendeknya, perilaku koruptif bermula dari sikap serakah yang akut. Adanya sifat rakus dan tamak tiada tara. Korupsi, menyebabkan ada orang yang berlimpah, ada yang terkuras, ada yang jaya, ada yang terhina, ada yang mengikis, ada yang habis. Korupsi paralel dengan sikap serakah.

Fiksasi dan Korupsi

Ada hubungan antara tahapan perkembangan kepribadian anak dengan kondisi anak setelah dewasa. Bila pada tahap-tahap itu terjadi fiksasi atau hambatan perkembangan kepribadian., maka kepribadian itulah yang dibawanya sampai besar.

Sifat serakah adalah sifat dari orang yang terhambat dalam perkembangan kepribadiannya, yaitu ketika dia terhambat dalam tahap kepribadian anal. Seorang anak yang mengalami hambatan kepribadian pada fase anal, ketika besar ia akan mempertahankan kepribadian anal. Karakter orang ini ditandai dengan kerakusan untuk memiliki. Ia merasakan kenikmatan dalam pemilikan pada hal-hal yang material. Fase anal ditandai oleh kesenangan anak melihat kotoran yang keluar dari anusnya. Kini, kotoran telahdiganti benda lain. Benda itu berujud uang, mobil, rumah, saham, berlian, emas, intan. Koruptor adalah anak kecil dalam tubuh orang dewasa. Badannya besar, jiwanya kerdil. Untuk menyembuhkannya, hilangkan hambatan itu. Tunjukkan padanya bahwa pada dasarnya dia belum dewasa. Kesenangan mengumpulkan harta adalah simbol perilaku menyimpang akibat terhambat dalam perkembangan kepribadian di masa kanak-kanak. Alhasil, koruptor adalah orang yang belum dewasa. Ia masih perlu belajar memperbaiki kualitas kepribadiannya.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Korupsi ditinjau dari Psikologi

November 27, 2008 at 9:40 am (Korupsi ditinjau dari Psikologi)

Dalam perilaku korupsi tidak ada paksaan dalam melakukannya. Artinya, kalau seseorang melakukan korupsi, ia tidak boleh berdalih melakukannya karena terpaksa, katakanlah karena gaji rendah. Hal lain yang juga ingin ditegaskan kutipan di atas: korupsi itu suatu tingkah laku yang disengaja, bukan faktor kebetulan, yaitu tingkah laku yang dilandasi niat atau motivasi tertentu. Bahkan kalau kita lihat dari hasil investigasi terhadap suatu perilaku korupsi, jelas sekali bahwa perbuatan itu sudah direncanakan jauh hari sebelumnya.Tulisan ini ingin menyoroti perilaku korupsi dari sudut pandang psikologi sebagai ilmu yang menjelaskan tingkah laku manusia. Pertama harus diperjelas dulu apa pengertian korupsi tersebut.

Arrigo dan Claussen (2003) misalnya mendefinisikan korupsi sebagai ”mengambil atau menerima suatu keuntungan buat diri sendiri yang tidak sah secara hukum dikarenakan individu tersebut mempunyai otoritas dan kekuasaan”. Jadi jelas dalam pengertian ini,segala bentuk penggelapan,pencurian terhadap dana publik untuk menguntungkan diri sendiri adalah perbuatan korupsi. Termasuk juga dalam pengertian ini ketika Anda menerima gratifikasi, suap dari orang lain supaya kepentingan orang yang memberikannya Anda dahulukan (kepentingan publik diabaikan). Jadi otomatis Anda bersikap tidak adil buat orang lain atau publik. Inti dari perbuatan korupsi adalah Anda menyalahgunakan kekuasaan publik.
Pertanyaannya adalah mengapa orang menyalahgunakan kekuasaannya tersebut untuk kepentingan pribadinya? Secara psikologis, jawaban tersebut harus kita telusuri dari hal-hal yang mendasari orang berperilaku dalam suatu konteks tertentu. Menurut pandangan teori behavioris, tingkah laku seseorang adalah fungsi dari lingkungannya.

Tingkah laku yang tampak adalah semata-mata hasil respons seseorang terhadap stimulus dari lingkungannya. Misalnya Anda berperilaku ikut antrean karena lingkungan (sebagai stimulus) mengarahkan Anda untuk antre. Kalau tidak ikut antre,Anda akan menerima konsekuensi tidak menyenangkan dalam bentuk hukuman dan sanksi. Begitu pula sebaliknya kalau Anda ikut antre akan menerima konsekuensi menyenangkan (dalam bentuk hadiah atau pujian). Pola tingkah laku akan stabil mengikuti logika konsekuensi dari imbalan dan hukuman ini. Pandangan ini dianggap terlalu pasif sehingga timbul pandangan lain yang bernama socio-cognitive approach.

Pandangan ini menambahkan, selain ditentukan oleh mekanisme imbalan hukuman (reward and punishment) dari lingkungan yang terkesan sangat sederhana, dalam bertingkah laku individu juga ditentukan oleh struktur kognitif yang banyak ia pelajari lewat proses sosial. Teori yang lain, teori kepribadian, menambahkan bahwa individu adalah insan yang mempunyai sifat-sifat (traits) unik tertentu yang membedakan suatu orang dengan orang yang lain. Dalam kasus korupsi,secara psikologis, tentu menjadi jelas bahwa perbuatan menyalahgunakan wewenang tersebut bisa saja terjadi karena individu tersebut sudah memiliki kecenderungan (sifat) untuk berbuat curang. Ini kalau penjelasannya kita alamatkan kepada karakteristik kepribadian.

Pertanyaannya: mengapa orang yang katanya baik-baik ternyata korupsi juga? Kaum behavioris mengatakan, berarti lingkunganlah yang secara kuat memberikan dorongan bagi orang untuk korupsi dan mengalahkan sifat baik seseorang yang sudah menjadi traits pribadinya. Lingkungan dalam hal ini malah memberikan dorongan dan bukan memberikan hukuman pada orang ketika ia menyalahgunakan kekuasaannya.
Penelitian-penelitian empiris mengenai korupsi mengonfirmasi anggapan tersebut.Pada umumnya faktor penyebab korupsi bersumber pada tiga aspek. Pertama, kerusakan pada lingkungan makro (negara) di mana sistem hukum, politik, pengawasan, kontrol, transparansi rusak.Kerusakan tersebut menjadi latar lingkungan yang merupakan faktor stimulus bagi perilaku orang. Tentunya menjadi jelas ketika sistem tidak secara kuat memberikan hukuman terhadap pelanggaran dan imbalan terhadap sebuah prestasi, tingkah menyimpang (korupsi) malah akan diulang-ulang karena akan memberikan konsekuensi yang menyenangkan. Kedua,pengaruh dari iklim koruptif di tingkat kelompok atau departemen. Ketiga, karena faktor kepribadian.

Permalink 2 Komentar

Korupsi ditinjau dari Logika dan Agama

November 27, 2008 at 9:36 am (Korupsi ditinjau dari Agama dan Logika)

Bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang beragama. Bangsa Indonesia mengakui adanya 5 macam agama, yaitu Kristen Protestan, Katholik, Islam, Hindu, Budha. Meskipun bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang beragama namun di mata bangsa lain, bangsa Indonesia sungguh terpuruk karena bangsa Indonesia dikenal sebagai salah satu bangsa terkorup di dunia. Penyakit korupsi adalah tindakan penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara (perusahaan, dsb) untuk keuntungan pribadi atau orang lain. Perilaku pejabat publik, baik politisi maupun pegawai negeri yang secara tidak wajar dan tidak legal, memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya, dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka. Dalam konteks Indonesia, korupsi telah menjadi penyakit sosial yang sudah sangat akut. Korupsi telah menjadi budaya yang tidak hanya dilakukan oleh orang-orang yang kepepet dan dari kelompok ekonomi lemah sehingga terpaksa melakukan korupsi untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Tetapi lebih banyak dilakukan oleh para pejabat baik dari instansi pemerintah maupun swasta yang telah berlebih dalam hal kesejahteraan hidup dan perekonomiannya, mulai dari pusat-pusat pemerintahan sampai yang terkecil yaitu daerah-daerah. Hampir tidak ada satu instansi pun yang steril dari penyakit ini. Departemen Agama (Depag), lembaga pemerintah yang seharusnya sebagai penyeru moral dan kesalehan, tak luput dari padanya. Mahkamah Agung (MA), lembaga peradilan tertinggi negara yang seharusnya steril dari aktifitas yang bisa menjadikan alat pemiskinan sistematis ini, juga tak lepas dari permasalahan moralitas dan mentalitas yang sangat bobrok ini.

Praktek korupsi yang telah menjadi budaya dalam masyarakat kita pada umumnya, itu disebabkan oleh kekuasaan yang tidak bertanggung jawab langsung kepada rakyat, tapi lewat perwakilan wakil-wakil rakyat di DPR yang rentan terjadi penyogokan-penyogokan, yang pada gilirannya akan berpengaruh besar pada penentuan kebijakan. Hal lain, kurangnya transparansi dalam pengambilan keputusan pemerintah, terutama sekali dalam penentuan anggaran, kampanye-kampanye politik yang mahal, dengan pengeluaran lebih besar dari pendanaan politik yang normal, proyek yang melibatkan uang rakyat dalam jumlah besar, lingkungan tertutup yang mementingkan diri sendiri dan jaringan teman, lemahnya ketertiban hukum, kurangnya kebebasan berpendapat dan kecilnya gaji pegawai negeri. Korupsi yang diderita Indonesia telah sedemikian parah. Sayang hingga kini pemerintah dan masyarakat masih tak berdaya dibuatnya.

Salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini adalah korupsi yang telah menjadi budaya hampir di setiap lapisan masyarakat kita. Korupsi sudah menjadi budaya orang Indonesia. Siapa pun bisa melihat bahwa budaya korupsi atau budaya penyalahgunaan wewenang telah menjadi realitas kehidupan orang Indonesia. Kehancuran negara kita saat ini disebabkan oleh korupsi, sebagai ulah banyak pemimpin kita yang tidak jujur. Faktor budaya yang dapat mendorong timbulnya korupsi :

  1. Adanya tradisi pemberian hadiah, oleh-oleh kepada pejabat pemerintah. Tindakan seperti itu bisa dianggap korupsi.
  2. Orang Indonesia lebih mementingkan ikatan keluarga dan kesetiakawanan lainnya. Dalam masyarakat Indonesia, kewajiban seseorang pertama-tama adalah memerhatikan saudara terdekatnya atau sesama etnisnya. Sehingga, seorang saudara yang mendatangi soerang pejabat untuk perlakuan khusus atau istimewa sulit ditolak.

Korupsi berkembang pesat di Indonesia karena budaya partnernalistis dalam masyarakat Indonesia, dimana hubungan antara masyarakat masih didasarkan pada partner dan klien. Tingkah laku orang kecil akan banyak mengikuti apa yang dilakukan oleh mereka yang dianggap menjadi anutan, tanpa mempersoalkan apa yang dilakukan oleh anutan benar atau tidak.

Budaya politik adalah nilai dan kebiasaan yang berkembang di kalangan elite politik Indonesia. Yang menjadi permasalahan adalah nilai-nilai pandangan, kebiasaan korupsi dan tingkah laku kelompok sosial dengan mudah menyebar, diikuti dan dan diterima masyarakat yang lebih luas. Hal itu terjadi karena para elite politik adalah tokoh anutan masyarakat. Kelompok yang dianggap menjadi anutan, seperti elite politik, pemuka agama dan tokoh masyarakat, diharap bertingkah laku benar sehingga tingkah laku pengikutnya akan benar. Kalau anutan bertingkah laku sembarangan, hal yang sama akan ditiru dengan segera oleh pengikutnya. Hal yang menyebabkan korupsi menjadi sesuatu yang fenomenal dan bertentangan dengan logika adalah : ”bagaimana mungkin bangsa Indonesia sebagai bangsa yang beragama menjadi salah satu bangsa terkorup di dunia?” Sedangkan dalam setiap ajaran agama manapun yang dianut di Indonesia, korupsi adalah tindakan keji dan kejam yang sangat dilarang oleh agama. Dalam pandangan agama apa pun, korupsi adalah dosa yang sangat berdampak buruk bagi orang lain, bahkan bisa menyebabkan orang kehilangan nyawa. Karena itu korupsi harus dilawan dan dihapuskan dari muka bumi, sebagaimana kita harus melawan dan menghapuskan penjajahan demi terwujudnya sebuah kemerdekaan bagi semua. Agama sebagai refleksi dan pemandu manusia dalam setiap perbuatan dan tindakannya yang harus dapat dipertanggung jawabkan.

Sebagai negara yang memiliki landasan kuat agama dan moralitas dalam bersikap, para pemimpin dan pelaku politik seharusnya tidak mengabaikan aspek agama dan moralitas dalam berpolitik. Meski agama merupakan wilayah privat dan politik wilayah publik, tidak berarti masing-masing saling meniadakan. Agama dan moral bisa menjadi panduan dalam berpolitik agar seseorang tidak terjebak perilaku amoral atau ego atau terjebak kepentingan sesaat dan kepentingan sempit. Dengan demikian, berpolitik tetap menjunjung nurani dengan memperhatikan aspirasi publik.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Perkembangan Masa Remaja

November 22, 2008 at 3:21 am (Perkembangan Masa Remaja)

Perkembngan Masa Remaja

Kata “remaja” berasal dari bahasa latin yaitu adolescere yang berarti to grow atau to grow maturity (Golinko, 1984 dalam Rice, 1990). Menurut Papalia dan Olds (2001), masa remaja adalah masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa yang pada umumnya dimulai pada usia 12 atau 13 tahun dan berakhir pada usia akhir belasan tahun atau awal dua puluhan tahun. Menurut Adams & Gullota (dalam Aaro, 1997), masa remaja meliputi usia antara 11 hingga 20 tahun. Sedangkan Hurlock (1990) membagi masa remaja menjadi masa remaja awal (13 hingga 16 atau 17 tahun) dan masa remaja akhir (16 atau 17 tahun hingga 18 tahun). Masa remaja awal dan akhir dibedakan oleh Hurlock karena pada masa remaja akhir individu telah mencapai transisi perkembangan yang lebih mendekati masa dewasa. Papalia & Olds (2001) berpendapat bahwa masa remaja merupakan masa antara kanak-kanak dan dewasa. Sedangkan Anna Freud (dalam Hurlock, 1990) berpendapat bahwa pada masa remaja terjadi proses perkembangan meliputi perubahan-perubahan yang berhubungan dengan perkembangan psikoseksual, dan juga terjadi perubahan dalam hubungan dengan orangtua dan cita-cita mereka, dimana pembentukan cita-cita merupakan proses pembentukan orientasi masa depan.

Transisi perkembangan pada masa remaja berarti sebagian perkembangan masa kanak-kanak masih dialami namun sebagian kematangan masa dewasa sudah dicapai (Hurlock, 1990). Bagian dari masa kanak-kanak itu antara lain proses pertumbuhan biologis misalnya tinggi badan masih terus bertambah. Sedangkan bagian dari masa dewasa antara lain proses kematangan semua organ tubuh termasuk fungsi reproduksi dan kematangan kognitif yang ditandai dengan mampu berpikir secara abstrak (Hurlock, 1990; Papalia & Olds, 2001). Menurut Monks, Knoers & Haditono (2001) membedakan masa remaja atas empat bagian, yaitu: (1) masa pra-remaja atau pra-pubertas (10-12 tahun), (2) masa remaja awal atau pubertas (12-15 tahun), (3) masa remaja pertengahan (15-18 tahun) dan (4) masa remaja akhir (18-21 tahun). Remaja awal hingga remaja akhir inilah yang disebut masa adolesen.

Perkembangan Fisik

  • Menurut Sarwono (1994) perubahan-perubahan fisik merupakan gejala primer pertumbuhan masa remaja yang berdampak pada perubahan-perubahan psikologis.
  • Menurut Zigler & Stevenson (1993), baik anak laki-laki maupun anak perempuan mengalami pertumbuhan fisik yang cepat, yang disebut “growth spurt” (percepatan pertumbuhan), dimana terjadi perunagan dan percepatan pertumbuhan diseluruh bagian dan dimensi badan.
  • Menurut Diamond & Diamond (1986), pertumbuhan cepat bagi anak perempuan terjadi 2 tahunlebih awal dari anak laki-laki. Umumnya anak perempuan mulai mengalami pertumbuhan cepat pada usia 10,5 tahun dan anak laki-laki pada usia 12,5 tahun, Bagi kedua jenis kelamin, pertumbuhan cepat ini berlangsung selama kira-kira 2 tahun.
  • Menurut Zigler & Stevenson (1993), secara garis besar perubahan-perubahan yang terjadi dapat dikelompokkan dalam dua kategori, yaitu perubahan-perubahan yang berhubungan dengan pertumbuhan fisik dan dan perubahan-perubahan yang berhubungan dengan perkembangan karakteristik seksual.

Perkembangan Kognitif

  • Menurut Mussen, Conger & Kagan (1969), masa remaja adalah suatu periode kehidupan dimana kapasitas untuk memperoleh dan menggunakan pengetahuan secara efisien mencapai puncaknya. Hal ini terjadi karena selama periode remaja, proses pertumbuhan otak mencapai kesempurnaan dan system saraf berkembang dengan cepat.
  • Menurut Carol & David R (1995), pada masa remaja terjadi reorganisasi lingkaran saraf prontal lobe (belahan otak bagian depan sampai pada belahan atau celah sentral). Prontal lobe ini berfungsi dalam aktivitas kognitif tingkat tinggi, seperti kemampuan merumuskan perencanaan strategis atau kemampuan mengambil keputusan.
  • Menurut Myers (1996), remaja mulai membayangkan apa yang dipikirkan orang tentang dirinya. Ketika kemampuan Kognitif mereka mencapai kematangan, kebanyakan remaja mulai memikirkan tentang apa yang diharapkan dan melakukan kritik terhadap masyarakat mereka, orang tua mereka dan bahkan tehadap kekurangan diri mereka sendiri.
  • Menurut Myers (1996), remaja mampu membuat pertimbangan dan melakukan perdebatan seputar topik-topik abstrak tentang manusia, kebaikan dan kejahatan, kebenaran dan keadilan.

Perkembangan Psikoseksual

Ø Perkembangan Individuasi & Identitas

o Menurut Grotevant & Cooper (1998), selama masa remaja kesadaran akan identitas menjadi semakin kuat, karena itu ia berusaha mencari identitas dan mendefinisikan kembali “siapakah” ia pada saat ini dan akan menjadi “siapakah” atau menjadi “apakah” ia pada masa yang akan dating.

o Menurut Jones & Hartmann (1988), perkembangan identitas selama remaja sangat penting karena ia memberikan suatu landasan bagi perkembangan psikoseksual dan relasi interpersonal pada masa dewasa.

o Menurut Josselson, 1980 (dalam seifert & Hoffnung, 1994), proses pencarian identitas, proses dimana seorang remaja mengembangkan suatu identitas personal atau sense of self yang unik, yang berbeda dan terpisah dari orang lain disebut dengan individuasi (individuation). Proses ini terdiri dari empat sub tahap yang berbeda, tetapi saling melengkapi, yaitu: diferensiasi, praktis dan eksperimentasi, penyesuaian, serta konsolidasi diri.

Ø Teori Psikoseksual Erikson

Menurut pendapat Erikson, remaja mulai memiliki suatu perasaan tentang identitasnya sendiri, suatu perasaan bahwa ia adalah manusia yang unik. Ia mulai menyadari sifat-sifat yang melekat pada dirinya, seperti kesukaan dan ketidaksukaannya, tujuan-tujuan yang diinginkan tercapai di masa mendatang, kekuatan dan hasrat untuk mengontrol kehidupannya sendiri. Di hadapannya terbentang peran baru dan status orang dewasa.

Akan tetapi, karena peralihan yang sulit dari masa kanak-kanak ke masa dewasa di satu pihak dan kepekaan terhadap perubahan sosial dan histories di pihak lain, maka selama tahap pembentukan identitas ini seorang remaja mungkin merasakan penderitaan paling dalam dibandingkan pada masa-masa lain akibat kekacauan peranan-peranan atau kekacauan identitas (identity confusion). Kondisi demikian membuat remaja merasa terisolasi, hampa, cemas dan bimbang. Mereka sangat peka terhadap cara-cara orang lain memandang dirinya, dan menjadi mudah tersinggung dan merasa malu. Selama masa kekacauan identitas ini tingkah laku remaja tidak konsisten dan tidak dapat diprediksikan. Pada satu saat ia mungkin lebih tertutup terhadap siapa pun karena takut ditolak atau dikecewakan. Namun pada saat lain ia mungkin ingin jadi pengikut atau pencinta dengan tidak mempedulikan konsekuensi-konsekuensi dari komitmennya (Hall & Lindzey, 1993).

Menurut Erikson, salah satu tugas perkembangan selama masa remaja adalah menyelesaikan krisis identitas, sehingga diharapkan terbentuk suatu identitas diri yang stabil pada akhir masa remaja. Disamping itu Erikson juga menyebutkan bahwa remaja berusaha merumuskan dan mengembangkan nilai kesetiaan (komitmen), yaitu kemampuan untuk mempertahankan loyalitas yang diikrarkan dengan bebas meskipun terdapat kontradiksi-kontradiksi yang tak terelakkan di antara sistem-sistem nilai.

Ø Perkembangan Seksualitas

Salah satu fenomena kehidupan remaja yang sangat menonjol adalah terjadinya peningkatan minat dan motivasi terhadap seksualitas. Menurut Santrock (1998), terjadinya peningkatan perhatian remaja terhadap kehidupan seksual ini sangat dipengaruhi oleh faktor-perubahan-perubahan fisik selama periode pubertas. Terutama kematangan organ-organ seksual dan perubahan-perubahan hormonal, mengakibatkan munculnya dorongan-dorongan seksual dalam diri remaja. Dorongan ini sangat tinggi dan bahkan lebih tinggi dari dorongan seksual orang dewasa yang tidak jarang dorongan ini menimbulkan ketegangan fisik dan psikis. Untuk melepaskan seksual tersebut, remaja mencoba mengekspresikan dorongan seksualnya dalam berbagai bentuk tingkah laku seksual, mulai dari melakukan aktivitas berpacaran (dating), berkencan, bercumbu, sampai deengan melakukan konak seksual. Tingkah laku yang paling umum dilakukan adalah masturbasi.

Menurut penelitian Jones dan Barlow, 1990 (dalam Dacey & Kenny, 1997), menyatakan bahwa frekuensi masturbasi remaja pria lebih sering dari remaja perempuan.

Menurut Kinsey et.al, 1953; Mc Cary,1978) memandang masturbasi sebagai suatu bentuk sekspresi seksual remaja yang normal. Sebab tidak ada fakta yang menegaskan bahwa masturbasi merupakan aktivitas yang berbahaya.

Menurut Dacey & Kenny (1997), beberapa remaja yang melakukan masturbasi mempunyai perasaan malu, bersalah dan perasaan takut kalau mereka berkembang menjadi sindrom masturbasi yang berlebihan. Dalam hal ini masturbasi tetap dilakukan meskipun anak merasa sangat menyesal. Perasaan ini diperkuat oleh rasa kesepian dan fantasi, yang pada gilirannya menyebabkan terjadinya depresi.

Ciri-ciri Masa Remaja:

Masa remaja adalah suatu masa perubahan. Pada masa remaja terjadi perubahan yang cepat baik secara fisik, maupun psikologis. Ada beberapa perubahan yang terjadi selama masa remaja.

  • Peningkatan emosional yang terjadi secara cepat pada masa remaja awal yang dikenal dengan sebagai masa storm & stress. Peningkatan emosional ini merupakan hasil dari perubahan fisik terutama hormon yang terjadi pada masa remaja. Dari segi kondisi sosial, peningkatan emosi ini merupakan tanda bahwa remaja berada dalam kondisi baru yang berbeda dari masa sebelumnya. Pada masa ini banyak tuntutan dan tekanan yang ditujukan pada remaja, misalnya mereka diharapkan untuk tidak lagi bertingkah seperti anak-anak, mereka harus lebih mandiri dan bertanggung jawab. Kemandirian dan tanggung jawab ini akan terbentuk seiring berjalannya waktu, dan akan nampak jelas pada remaja akhir yang duduk di awal-awal masa kuliah.
  • Perubahan yang cepat secara fisik yang juga disertai kematangan seksual. Terkadang perubahan ini membuat remaja merasa tidak yakin akan diri dan kemampuan mereka sendiri. Perubahan fisik yang terjadi secara cepat, baik perubahan internal seperti sistem sirkulasi, pencernaan, dan sistem respirasi maupun perubahan eksternal seperti tinggi badan, berat badan, dan proporsi tubuh sangat berpengaruh terhadap konsep diri remaja.
  • Perubahan dalam hal yang menarik bagi dirinya dan hubungan dengan orang lain. Selama masa remaja banyak hal-hal yang menarik bagi dirinya dibawa dari masa kanak-kanak digantikan dengan hal menarik yang baru dan lebih matang. Hal ini juga dikarenakan adanya tanggung jawab yang lebih besar pada masa remaja, maka remaja diharapkan untuk dapat mengarahkan ketertarikan mereka pada hal-hal yang lebih penting. Perubahan juga terjadi dalam hubungan dengan orang lain. Remaja tidak lagi berhubungan hanya dengan individu dari jenis kelamin yang sama, tetapi juga dengan lawan jenis, dan dengan orang dewasa.
  • Perubahan nilai, dimana apa yang mereka anggap penting pada masa kanak-kanak menjadi kurang penting karena sudah mendekati dewasa.
  • Kebanyakan remaja bersikap ambivalen dalam menghadapi perubahan yang terjadi. Di satu sisi mereka menginginkan kebebasan, tetapi di sisi lain mereka takut akan tanggung jawab yang menyertai kebebasan tersebut, serta meragukan kemampuan mereka sendiri untuk memikul tanggung jawab tersebut.

Tugas perkembangan remaja:

Tugas perkembangan remaja menurut Havighurst dalam Gunarsa (1991) antara lain :

  • memperluas hubungan antara pribadi dan berkomunikasi secara lebih dewasa dengan kawan sebaya, baik laki-laki maupun perempuan
  • memperoleh peranan sosial
  • menerima kebutuhannya dan menggunakannya dengan efektif
  • memperoleh kebebasan emosional dari orangtua dan orang dewasa lainnya
  • mencapai kepastian akan kebebasan dan kemampuan berdiri sendiri
  • memilih dan mempersiapkan lapangan pekerjaan
  • mempersiapkan diri dalam pembentukan keluarga
  • membentuk sistem nilai, moralitas dan falsafah hidup

Erikson (1968, dalam Papalia, Olds & Feldman, 2001) mengatakan bahwa tugas utama remaja adalah menghadapi identity versus identity confusion, yang merupakan krisis ke-5 dalam tahap perkembangan psikososial yang diutarakannya. Tugas perkembangan ini bertujuan untuk mencari identitas diri agar nantinya remaja dapat menjadi orang dewasa yang unik dengan sense of self yang koheren dan peran yang bernilai di masyarakat (Papalia, Olds & Feldman, 2001).

Untuk menyelesaikan krisis ini remaja harus berusaha untuk menjelaskan siapa dirinya, apa perannya dalam masyarakat, apakah nantinya ia akan berhasil atau gagal yang pada akhirnya menuntut seorang remaja untuk melakukan penyesuaian mental, dan menentukan peran, sikap, nilai, serta minat yang dimilikinya.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar