Korupsi ditinjau dari Logika dan Agama

November 27, 2008 at 9:36 am (Korupsi ditinjau dari Agama dan Logika)

Bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang beragama. Bangsa Indonesia mengakui adanya 5 macam agama, yaitu Kristen Protestan, Katholik, Islam, Hindu, Budha. Meskipun bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang beragama namun di mata bangsa lain, bangsa Indonesia sungguh terpuruk karena bangsa Indonesia dikenal sebagai salah satu bangsa terkorup di dunia. Penyakit korupsi adalah tindakan penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara (perusahaan, dsb) untuk keuntungan pribadi atau orang lain. Perilaku pejabat publik, baik politisi maupun pegawai negeri yang secara tidak wajar dan tidak legal, memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya, dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka. Dalam konteks Indonesia, korupsi telah menjadi penyakit sosial yang sudah sangat akut. Korupsi telah menjadi budaya yang tidak hanya dilakukan oleh orang-orang yang kepepet dan dari kelompok ekonomi lemah sehingga terpaksa melakukan korupsi untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Tetapi lebih banyak dilakukan oleh para pejabat baik dari instansi pemerintah maupun swasta yang telah berlebih dalam hal kesejahteraan hidup dan perekonomiannya, mulai dari pusat-pusat pemerintahan sampai yang terkecil yaitu daerah-daerah. Hampir tidak ada satu instansi pun yang steril dari penyakit ini. Departemen Agama (Depag), lembaga pemerintah yang seharusnya sebagai penyeru moral dan kesalehan, tak luput dari padanya. Mahkamah Agung (MA), lembaga peradilan tertinggi negara yang seharusnya steril dari aktifitas yang bisa menjadikan alat pemiskinan sistematis ini, juga tak lepas dari permasalahan moralitas dan mentalitas yang sangat bobrok ini.

Praktek korupsi yang telah menjadi budaya dalam masyarakat kita pada umumnya, itu disebabkan oleh kekuasaan yang tidak bertanggung jawab langsung kepada rakyat, tapi lewat perwakilan wakil-wakil rakyat di DPR yang rentan terjadi penyogokan-penyogokan, yang pada gilirannya akan berpengaruh besar pada penentuan kebijakan. Hal lain, kurangnya transparansi dalam pengambilan keputusan pemerintah, terutama sekali dalam penentuan anggaran, kampanye-kampanye politik yang mahal, dengan pengeluaran lebih besar dari pendanaan politik yang normal, proyek yang melibatkan uang rakyat dalam jumlah besar, lingkungan tertutup yang mementingkan diri sendiri dan jaringan teman, lemahnya ketertiban hukum, kurangnya kebebasan berpendapat dan kecilnya gaji pegawai negeri. Korupsi yang diderita Indonesia telah sedemikian parah. Sayang hingga kini pemerintah dan masyarakat masih tak berdaya dibuatnya.

Salah satu penyebab kemiskinan di negeri ini adalah korupsi yang telah menjadi budaya hampir di setiap lapisan masyarakat kita. Korupsi sudah menjadi budaya orang Indonesia. Siapa pun bisa melihat bahwa budaya korupsi atau budaya penyalahgunaan wewenang telah menjadi realitas kehidupan orang Indonesia. Kehancuran negara kita saat ini disebabkan oleh korupsi, sebagai ulah banyak pemimpin kita yang tidak jujur. Faktor budaya yang dapat mendorong timbulnya korupsi :

  1. Adanya tradisi pemberian hadiah, oleh-oleh kepada pejabat pemerintah. Tindakan seperti itu bisa dianggap korupsi.
  2. Orang Indonesia lebih mementingkan ikatan keluarga dan kesetiakawanan lainnya. Dalam masyarakat Indonesia, kewajiban seseorang pertama-tama adalah memerhatikan saudara terdekatnya atau sesama etnisnya. Sehingga, seorang saudara yang mendatangi soerang pejabat untuk perlakuan khusus atau istimewa sulit ditolak.

Korupsi berkembang pesat di Indonesia karena budaya partnernalistis dalam masyarakat Indonesia, dimana hubungan antara masyarakat masih didasarkan pada partner dan klien. Tingkah laku orang kecil akan banyak mengikuti apa yang dilakukan oleh mereka yang dianggap menjadi anutan, tanpa mempersoalkan apa yang dilakukan oleh anutan benar atau tidak.

Budaya politik adalah nilai dan kebiasaan yang berkembang di kalangan elite politik Indonesia. Yang menjadi permasalahan adalah nilai-nilai pandangan, kebiasaan korupsi dan tingkah laku kelompok sosial dengan mudah menyebar, diikuti dan dan diterima masyarakat yang lebih luas. Hal itu terjadi karena para elite politik adalah tokoh anutan masyarakat. Kelompok yang dianggap menjadi anutan, seperti elite politik, pemuka agama dan tokoh masyarakat, diharap bertingkah laku benar sehingga tingkah laku pengikutnya akan benar. Kalau anutan bertingkah laku sembarangan, hal yang sama akan ditiru dengan segera oleh pengikutnya. Hal yang menyebabkan korupsi menjadi sesuatu yang fenomenal dan bertentangan dengan logika adalah : ”bagaimana mungkin bangsa Indonesia sebagai bangsa yang beragama menjadi salah satu bangsa terkorup di dunia?” Sedangkan dalam setiap ajaran agama manapun yang dianut di Indonesia, korupsi adalah tindakan keji dan kejam yang sangat dilarang oleh agama. Dalam pandangan agama apa pun, korupsi adalah dosa yang sangat berdampak buruk bagi orang lain, bahkan bisa menyebabkan orang kehilangan nyawa. Karena itu korupsi harus dilawan dan dihapuskan dari muka bumi, sebagaimana kita harus melawan dan menghapuskan penjajahan demi terwujudnya sebuah kemerdekaan bagi semua. Agama sebagai refleksi dan pemandu manusia dalam setiap perbuatan dan tindakannya yang harus dapat dipertanggung jawabkan.

Sebagai negara yang memiliki landasan kuat agama dan moralitas dalam bersikap, para pemimpin dan pelaku politik seharusnya tidak mengabaikan aspek agama dan moralitas dalam berpolitik. Meski agama merupakan wilayah privat dan politik wilayah publik, tidak berarti masing-masing saling meniadakan. Agama dan moral bisa menjadi panduan dalam berpolitik agar seseorang tidak terjebak perilaku amoral atau ego atau terjebak kepentingan sesaat dan kepentingan sempit. Dengan demikian, berpolitik tetap menjunjung nurani dengan memperhatikan aspirasi publik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: